Monday, May 10, 2010

Cerita tentang mereka.

''c u @6 pm. Ilusm''

Hanya beberapa kata, namun sms yang baru kubaca saat bangun tidur hari ini mampu mencerahkan seluruh hariku. Nanti sore kami berjanji akan bertemu di tempat biasa, walau hanya sekedar makan malam, tapi membayangkan akan melihat senyumnya saja membuatku pun terus tersenyum.

Ntah ini pertemuan kami yang keberapa. Aku tidak mau menghitungnya. Mungkin dari pertemuan pertama itu, kami sudah saling jatuh cinta. Atau aku yang jatuh cinta..? Itupun aku tidak mau memikirkannya. Sekarang aku hanya ingin melewati setiap waktuku bersamanya..

***

Pertemuan pertama kami terjadi saat kunjungan proyek 2 bulan lalu. Dalam waktu singkat, aku seperti tersihir. Seakan chemistry itu timbul begitu saja. Menyenangkan sekali berbicara dengannya. Samapi akhirnya kami bertukar nomor telepon.
Sejak itu kami semakin dekat. Saling bercerita, sms, chat, telepon di hampir setiap malamku. begitu dekatnya sampai ia bercerita tenteng istrinya.
Yah, ia sudah menikah dan mempunyai istri. Tahun ini memasuki tahun kedua pernikahan mereka..
Dari awal ia memang tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada satu kata cinta pun untukku. Sampai waktu itu.
''aku sayang kamu..''
tepat saat kata-kata itu diucapkan, resmilah aku sebagai seorang selingkuhan..

***

''Sudah lama..?''
Panggilan itu membuyarkan lamunanku. Ia sudah datang rupanya. Ada di depanku dengan senyumnya yang sangat kusukai.

Seperti inilah kami menghabiskan waktu bersama. Makan malam bersama. Kadang-kadang saat ia tidak sibuk, kami pergi ke suatu tempat, entah mal atau apalah. Tapi tidak pernah sekalipun ke tempat-tempat mesum, hotel misalnya. Hubungan kami sma sekali tidak menjurus ke arah sana. Bahkan hubungan fisik pun hanya sebatas genggaman di tangan, pelukan hangat, dan ciuman di rambutku. Tidak ada ciuman di kening, pipi, apalagi bibir. Bohong kalau aku bilang tidak menginginkan hal itu, tapi apa hal seperti itu harus diminta? Bukannya semua terjadi begitu saja..?

Seringkali aku berpikir bahwa semua ini slah dan harus dihentikan, karena pada akhirnya aku akan menjadi pigak yang paling tersakiti. Tapi, apa dayaku..? Semua pikiran itu menghilang saat mendengar suaranya, melihat wajahnya, atau saat berada dalam pelukannya. Terlalu nyaman untuk dilepaskan..

Sampai akhirnya aku mencapai satu kesimpulan:
''Let it flow..''

***

Hari ini kami berjanji untuk bertemu di kafe biasa. Tempat yang kerap kali menjadi saksi bisu semua hal manis yang pernah ia lakukan untukku. Jadwalku yang cukup lenggang, dan keinginanku untuk bertemu yang menggebu-gebu akhirnya aku sampai disini pukul 17.30. Masih setengah jam lagi sebelum waktu kami bertemu.

Begitu banyak masalah yang terjadi hari ini, membuatku merasa bertambah tua beberapa tahun. Karena itulah aku sangat membutuhkan doping. Dan aku yakin, cukup dengan satu pelukan darinya, aku akan merasa baik-baik saja.

Sudah pukul 18.00, dia masih belum tiba. Tentu saja, kita kan bukan berada di kantor yang harus tiba tepat waktu. Apa bedanya telat 1 menit dengan10 menit. Sebentar lagi ia akan datang..

Pukul 18.30. ia masih belum datang. Hujan turun. Tempatku yang berada di luar membuat air hujan tempias dan sedikit membasahi kakiku. Kugeser tempatku sedikit tanpa berpindah meja. Aku menyukai tempatku saat ini. Lagipula aku yakin, ia tidak akan keberatan. Ia masih belum datang, mungkin hujan ini membuat jalan macet, pasti ia terjebak dalam kemacetan jakarta..

Pukul 20.00. Aku masih sendiri. Hujan sudah agak reda, namun jika berdiri 5menit saja dibawahnya, tubuhmu jelas akan menggigil kedinginan. Dia masih belum juga datang. Aku mulai merasa khawatir. Apa terjadi sesuatu? Jangan-jangan kecelakaan atau asmanya kambuh? Langsung kukirimkan sebuah pesan singkat untuknya.
''where r u..? I'm here..''

Pukul 22.00. Hujan sudah berganti menjadi rintik-rintik kecil. Ia masih belum tiba. Kekhawatiranku semakin menjadi-jadi. Ragu-ragu kupandangi ponsel ditanganku. Nomor-nomor yang sudah kuhafal diluar kepalaku tampil dilayar, siap tersambung begitu aku menekan tombol dial. Tapi, rasanya ada sesuatu yang menahanku.

Pukul 23.00. Ia masih belum datang, dan aku masih disini. Hujan sudah berhenti sma sekali. Para waiter sudah mulai berbisik-bisik. Sepertinya tempat ini sudah mau tutup. Ada apa dengannya..? Biasanya ia tidak pernah membuatku khawatir.

Bip.bip.bip
''Maaf sayang, aku tidak bisa datang. Aku baru bisa mengabarimu sekarang. Hari ini hari ulang tahun istriku dan aku berjanji untuk membawanya ke suatu tempat. Sulit sekali mencari signal disana. Kuharap kamu tidak menunggu lama. Ilusm''

Aku berharap saat ini hujan turun dengan derasnya. Dan aku berharap bisa menari riang di bawah guyuran hujan itu untuk menyembunyikan tangisku.

Aku lupa..
Aku hanya seorang selingkuhan bukan?

***

Sudah 3 hari ini aku tidak menghubunginya. Tidak membalas smsnya, tidak menjawab panggilan telepon darinya. Tapi, hari ini hatiku kembali luluh. Sebuket mawar merah dengan secarik puisi didalamnya dialamatkan ke rumahku. How do i love thee dari Elizabeth Barret Browning. Puisi kesukaanku. Bagaimana hatiku tidak meleleh dibuatnya..?

Tidak lama kemudian, sebuah sms kuterima.
"Maaf. Aku tahu lagi bagaimana caranya agar kau berhenti marah. Semoga mawar-mawar ini dapat mengembalikan senyummu padaku."

Bagaimana aku harus menjawab semuanya? Apa aku harus mengatakan padanya bahwa aku lelah? Bahwa aku terlalu menyayanginya untuk bisa bangun dari semua hal indah ini? Atau aku harus mengatakan padanya bahwa aku benci padanya karena membuatku menunggu berjam-jam sendirian di tengah hujan yang dingin..? aku tidak tahu..


"Hey, i'm okay dear. Hp ku ketinggalan di rumah temanku. jd lose contact y. :) Oiya, aku ga lama koq nunggu kamu. Waktu itu aku memang ga bisa lama-lama. so, it's okay."


Lihat kan? Lagi-lagi aku melakukan hal bodoh. Mengatakan semua padanya. Bukankah lebih baik kalau aku mengatakan padanya bahwa aku sangat membencinya karena membuatku merasa seperti ini? Tapi hal itu tidak aku lakukan. sepertinya tanpa kusadari, aku berusaha memperpanjang setiap waktu yang dapat kuhabiskan bersamanya. Karena ntah kapan, semua ini pasti harus diakhiri. Cepat atau lambat.. Bukan salahku kan jika yang kulakukan saat ini hanya memeluk seluas mungkin kebahagiaan yang berada tepat di depan mataku..?

***

Sudah setengah jam lebih tidak satupun dari kami yang membuka suara. Dari gerak-geriknya yang sangat gelisah, aku bisa menebak ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya. Mungkin inilah saatnya untuk kami berdua. Untukku tepatnya...

"Kita harus berhenti.."

Akhirnya kalimat itu terucap juga dari mulutnya. Aku hanya bisa tersenyum menatapnya. Berusaha sekuat mungkin menahan sesuatu yang sudah gelisah meminta untuk dikeluarkan sedari tadi. Sesuatu yang menggumpal dan menyesakkan di dada..

"Aku tahu.. Cerita kita memang tidak akan bisa menjadi sebuah cerita dengan tema happily-ever-after."
"Kau tidak sedih? "
"Hanya Tuhan yang tahu seperti apa rasanya menjadi diriku saat ini."
"Kau membuatku merasa seperti orang paling jahat sedunia.."
"Kau memang orang paling jahat sedunia. Tapi aku mencintaimu sebagai orang paling jahat di dunia. Terima kasih untuk semua waktu yang kau berikan selama ini. Untuk semua hal manis yang pernah kau berikan untukkku. Untuk semua pelukan itu juga.. Selamat tinggal."
"Segampang ini..?"
"Kau tidak tahu seberapa besar usahaku untuk menahan tangis. Lebih sulit dari skripsiku.."
"Hey dear, u know.. i still love u so much..."

Dan begitulah akhirnya kami berpisah. Ditutup dengan sebuah pelukan dalam dan hangat. Saat aku keluar, rupanya hujan turun. Sambil terus berjalan di bawah guyuran hujan, aku tertawa sekaligus menangis. Rasanya begitu melegakan, semuanya sudah berakhir, tapi sekaligus sangat menyakitkan, merasakan sebuah cerita dengan akhir yang tidak bahagia.

***

Apa cinta itu mengenal salah?

Cinta itu tidak mengenal salah. bukankah cinta itu anugrah dari Tuhan? Maka sudah seharusnya ia tidak pernah salah.. Lalu apa yang salah..?

No comments:

Post a Comment