Monday, November 16, 2009

Cerita Tentang Dia

Cerita ini bukan tentang aku. Bukan juga tentang kamu. Cerita ini tentang dia....

Dulu dia bukan siapa-siapa. Kami hanya dua orang asing yang tak saling mengenal dan kemudian bertemu di satu hari pada waktu dan tempat yang sama.
"Anak 2008..?"
"Iya.."
"Ooo.. Fakultas ap?"
"Teknik. u?"
"Teknik.."
Yah, demikianlah awal pertemuan kami.

Dari pertemuan pertama itu berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Kami menjadi teman. Teman smsan, teman bermain, hanya teman.

Dia mulai sering mengirimkan pesan-pesan untukku. Dia menemaniku mengerjakan tugas sampai larut malam. Dan perlahan-lahan rasa itu mulai tumbuh. Sampai kami mulai naik lagi ke jenjang yang lebih tinggi. Kami menjadi teman baik. Dan saat itu aku baru tersadar bahwa aku mulai menyukainya.

Tepat saat aku tersadar, aku mengetahui fakta lain yang menjadi alasanku untuk tersadar. Dia mengatakan ada seseorang yang menempati hatinya. Kaget bercampur sedih. Pelan-pelan aku berusaha mengetahui siapa wanita itu. Ternyata orang itu adalah temanku sendiri.

Sebagai teman baiknya, aku menyemangatinya, membantunya, dan memberikan saran-saran untuknya. Dengan menekan semua pedih di dadaku, aku tetap tersenyum padanya. Dan saat mereka berdua bertambah dekat, kepedihan itu semakin menyeruak dan mendesak untuk keluar. Tapi semua itu masih dapat kutahan dengan sekuat hati. Dia teman baikku, dan aku pun teman baiknya kan??

Seiring waktu berjalan, aku menemukan orang lain untuk mengisi ruang di hatiku. Pelan-pelan orang itu menempati dan menutup lukaku. Namun, mungkin memang rasa itu datang hanya untuk pergi lagi. Saat aku mulai memberikan signal-signal lampu hijau untunya, perlahan namun pasti orang itu mundur dan menjaga jarak dariku.

Mungkin itu bukan sayang, apalagi cinta. Aku hanya mencari obat untuk menutupi luka hatiku. Karena itu aku berusaha agar hal itu tidak terlalu menggannguku. Toh aku tidak benar-benar menyayanginya kan?

Suatu hari aku mendengar cerita dari kawan-kawanku, orang itu sudah berpacaran dengan wanita lain yang ternyata adalah wanita yang disukainya. Secepat mungkin aku segera menghubunginya.
"Masih suka dia?"
"Ga tau d. Napa manknya?
"Ga apa-apa. Hmm.. Lagi patah hati ni. T.T"
""Heh??"
"Iya.. gebetan gw uda jadian. Huhuhu. Oiya, gebetan u uda jadian juga noh katanya. Uda tau?"

Betapa beruntungnya wanita itu, dia mendapatkan dua hati yang tidak dapat kumiliki. Ingin sekali berteriak lalu menangis sepuasnya.

Sekarang diantara kami berempat seakan ada benang tak terlihat yang menghubungkan hati kami. Mungkin benang milikkulah yang terlihat paling kusut. Di satu pihak aku merasa tertekan harus terus tersenyum dan tertawa melihat mereka bertiga saling bercanda dan menertawakan. Namun di pihak lain, wanita itu adalah temanku dan teman itu harusnya saling mendukung kan??

Waktu berlalu dan aku mulai terbiasa dengan sesak itu sampai kemudian cerita ini berpindah ke hari yang lain...

Cerita ini berlanjut pada suatu liburan. Mungkin ini cinta, mungkin ini sayang, mungkin juga ini cuma kagum. Aku berkenalan dengannya dan melewatkan beberapa hari bersamaan. Bersama-sama melihat bintang jatuh, bersama-sama melihat film terbaru di bioskop, bersama-sama bermain skating. Bersama dengannya pun aku menemukan, mengetahui dan mendapatkan bermacam-macam hal baru. Dia menggenggam tanganku, merangkul bahuku, menyenderkanku di dadanya, dan dia menciumku disaatku tertidur. Dia merebut ciuman pertamaku!! Mungkin aku seharusnya kesal karenanya, namun saat itu aku terlalu naif, bodoh, dan polos untuk benci padanya.

Dan sepertinya memang itu tujuan utamanya. Setelah mendapatkan hatriku dan ciuman dariku, suatu hari tanpa sebab apapun dan alasan yang jelas, ia menghilang bagai debu. Pergi begitu saja, seakan tak pernah mengenalku. Meninggalkanku yang tengah dimanja oleh buaian rayuan darinya. Seakan tidak rela, sosoknya serta gesturenya yang menjagaku melekat erat di dalam ingatanku...

Saat aku patah hati untuk kesekian kalinya, dia kembali mulai mengisi hatiku. Entah hanya untuk mengisi kekosongan atau menutup luka yang ditimbulkan olehnya. Perlahan-lahan dia mulai mengisi benakku lagi..

Dia yang menggangguku, dia yang duduk di sebelahku, dia yang mendengarkanku, dia yang membantuku, dia yang kuanggap temanku yang paling manis, dia yang menganggapku seorang teman, dia yang bertanya padaku tentang kebingungannya, dia yang sama seperti dulu.

Mungkin untuk kesekian kalinya aku jatuh cinta.
Mungkin untuk kesekian kalinya aku akan terluka dan menangis.
Namun untuk yang kesekian kalinya juga aku ingin berharap....

No comments:

Post a Comment